.

Sabtu, 03 September 2011

Sejarah Eyang Ngabehi Ronggo Warsito

Posted by dusun klanting dawar bldg mjkrto on 10.48

KOLOTIDO
Salah satu cuplikan karya sastra tembang "Sinom" dalam "Serat Kalatido" bab.8, seperti di bawah ini :

  • Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi
  • melu edan ora tahan
  • yen tan melu anglakoni boya kaduman melik
  • kaliren wekasanipun
  • Dillalah karsaning Allah
  • Sakbeja-bejane wong kang lali
  • luwih beja kang eling lan waspada..
Apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi :
  • Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak,
  • ikut gila tidak tahan
  • jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik,
  • akhirnya menjadi ketaparan.
  • Namun dari kehendak Allah,
  • seuntung untungnya orang yang lupa diri,
  • masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada.
Kemudian gubahan ini diakhiri dengan sebaris gatra yang bersandiasma, berbunyi "bo-RONG ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya". Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam sorga, tempat yang memuat kehidupan langgeng sejati.
Masyarakat Jawa tidak akan gampang melupakan sastrawan dan pujangga besar bernama Raden Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito. Tokoh yang hidup pada masa ke-emasan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan ‘warisan tak terharga’ berupa puluhan serat yang mempunyai nilai dan capaian estika menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya, teologi serta ditunjang bakat, mendudukkan ia sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta.
R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.
Sebagai putra bangsawan Burham mempunyai seorang emban bernama Ki Tanujoyo sebagai guru mistiknya. Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya. Ronggowarsito memulai karirnya sebagai sastrawan dengan menulis Serat Jayengbaya ketika masih menjadi mantri carik di Kadipaten Anom dengan sebutan M. Ng. Sorotoko. Dalam serat ini dia berhasil menampilkan tokoh seorang pengangguran bernama Jayengboyo yang konyol dan lincah bermain-main dengan khayalannya tentang pekerjaan. Sebagai seorang intelektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang diantaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati, pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha, dan kelebihan beliau dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang, bahkan pada Serat Sabda Jati terdapat sebuah ramalan tentang saat kematiannya sendiri.
Pertama mengabdi pada keraton Surakarta Hadiningrat dengan pangkat Jajar. Pangkat ini meembuatnya menyandang nama Mas Panjangswara., adalah putra sulung Raden Mas Tumenggung Sastranegara, pujangga kraton Surakarta.. Semasa kecil beliau diasuh oleh abdi yang amat kasih bernama Ki Tanudjaja. Hubungan dan pergaulan keduanya membuat Ranggawaraita memiliki jiwa cinta kasih dengan orang-orang kecil (wong cilik). Ki Tanudjaja mempengaruhi kepribadian Ranggawarsita dalam penghargaannya kepada wong cilik dan berkemampuan terbatas. Karena pergaulan itu, maka dikemudian hari, watak Bagus Burham berkembang menjadi semakin bijaksana.
Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.
Selama menunggu kehadiran Adipati Cakraningrat itu, Bagus Burham dan Ki Tanudjaja berjualan 'klitikan' (barang bekas yang bermacam-macam yang mungkin masih bisa digunakan). Di pasar inilah Bagus Burham berjumpa dengan Raden kanjeng Gombak, putri Adipati Cakraningrat, yang kelak menjadi isterinya.
Kemudian Burham dan Ki Tanudjaja meninggalkan Madiun. Kyai Imam Besari melaporkan peristiwa kepergian Bagus Burham dan Ki Tanudjaja kepada ayahanda serta neneknya di Solo/Surakarta. Raden Tumenggung Sastranegara memahami perihal itu, dan meminta kepada Kyai Imam Besari untuk ikut serta mencarinya. Selanjutnya Ki Jasana dan Ki Kramaleya diperintahkan mencarinya. Kedua utusan itu akhirnya berhasil menemukan Burham dan Ki Tanudjaja, lalu diajaknyalah mereka kembali ke Pondok Gebang Tinatar, untuk melanjutkan berguru kepada Kyai Imam Besari.
Ketika kembali ke Pondok, kenakalan Bagus Burham tidak mereda. Karena kejengkelannya, maka Kyai Imam Besari memarahi Bagus Burham. Akhirnya Bagus Burham menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh menyesal atas tindakannya yang kurang baik itu. Melalui proses kesadaran dan penghayatan terhadap kenyataan hidupnya itu, Bagus Burham menyadari perbuatannya dan menyesalkan hal itu. Dengan kesadarannya, ia lalu berusaha keras untuk menebus ketinggalannya dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya, ia juga berusaha untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, yang pada akhirnya justru mendorongnya untuk mengejar ketinggalan dalam belajar. Dengan demikian muncul kesadaran baru untuk berbuat baik dan luhur, sesuai dengan kemampuannya.
Sejak saat itu, Bagus Burham belajar dengan lancar dan cepat, sehingga Kyai Imam Besari dan teman-teman Bagus Burham menjadi heran atas kemajuan Bagus Burham itu. Dalam waktu singkat, Bagus Burham mampu melebihi kawan-kawannya. Setelah di Pondok Gebang Tinatar dirasa cukup, lalu kembali ke Surakarta, dan dididik oleh neneknya sendiri, yaitu Raden Tumenggung Sastranegara. Neneknya mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang amat berguna baginya. Setelah dikhitan pada tanggal 21 Mei l8l5 Masehi, Bagus Burham diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata, untuk mempelajari bidang Jaya-kawijayan (kepandajan untuk menolak suatu perbuatan jahat atau membuat diri seseorang merniliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdas-an dan kemampuan jiwani.Setelah tamat berguru, Bagus Burham dipanggil oleh Sri Paduka PB.IV dan dianugerahi restu, yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu :
ronggowarsito2.jpg (7793 bytes) Pertama : Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras.
Kedua : Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa. Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa.
Ketiga : Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman diperoleh dari Gusti Pangeran Harya Buminata. Dari pangeran ini, diperoleh pula ilmu Jaya-kawijayan, kesaktian dan kanuragan. Proses inilah proses pendewasaan diri, agar siap dalam terjun kemasyarakat. dan siap menghadapai segala macam percobaan dan dinamika kehidupan.Bagus Burham secara kontinyu mendapat pendidikan lahir batin yang sesuai dengan perkembangan sifat-sifat kodratiahnya, bahkan ditambah dengan pengalamannya terjun mengembara ketempat-tempat yang dapat menggernbleng pribadinya. Seperti pengalaman ke Ngadiluwih, Ragajambi dan tanah Bali. Disamping gemblengan orang-orang tersebut diatas, terdapat pula bangsawan keraton yang juga memberi dorongan kuat untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga karier dan martabatnya semakin meningkat. Tanggal 28 Oktober 1818, ia diangkat menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom, atau lazimnya disebut dengan Rangga Panjanganom.
Bersamaan dengan itu, Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.
Sekembali dari berguru, ia tinggal di Surakarta melaksanakan tugas sebagai abdi dalem keraton. Kemudian ia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas ngabehi Sarataka, pada tahun 1822. Ketika terjadi perang Diponegoro (th.1825-1830), yaitu ketika jaman Sri Paduka PB VI, ia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang selanjutnya bertempat tinggal di Pasar Kliwon. Dalam kesempatan itu, banyak sekali siswa-siswanya yang terdiri orang-orang asing, seperti C.F Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan lainnya. Dengan CF.Winter, Ranggawarsita membantu menyusun kitab Paramasastra Jawa dengan judul Paramasastra Jawi. Dengan Jonas Portier ia membantu penerbitan majalah Bramartani, dalam kedudukannya sebagai redaktur.Majalah ini pada jaman PB VIII dirubah namanya menjadi Juru Martani. Namun pada jaman PB IX kembali dirubah menjadi Bramartani.
Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24. Inalilahi waina ilahi rojiun.*
xotzbibk%
Hogkikbelbf `kib ikxb goeolkxk% Bzbibf nebe{b go{bikek ibdbt benke bikdbxe{b fbe{b
bibe goe{sbfibe fbxk sb`b% Lodkf dbki gogdbx ibt{b'ibt{b iksbf `bgbe hbfl iblb%
1% Ioek ikebtxb hbtsbeb
Zbenlkgdben blb lbe docki
Sb{oixk biof io~blb
Lolbime iben hbhk xbgskl
Gbsblbfken enbtkz
^bfbekektb xkeog
Xogbfbe bebtkgb
Gzs zozosxfoeken xbihkt
Zlf'Zlf benlbimek ibolmibe
Gogdbx iksbf lbgb kek hbzbx hkzbibk ibcb doennblb,
neb gogdbehkenibe zotdbxbe {ben sblbf hbe {ben doxl%
Sodoebte{b dbe{bi soiblk cmexmf 'cmexmf hblbg iksbf'iksbf lbgb,
goenoebk iofkhzbe {ben hbzbx goehkenkeibe fbxk, bifkte{b $etkgb$
hbe goe{otbfibe hktk iozbhb iofoehbi Xfbe%
[bf sonblbe{b kx ibtoeb sohben goenblbgk io`bhkbe {ben beof'beof%
>% Bgoebenk `bgbe ohbe
O~f b{b ken zbgdhk
Gkl ohbe emtb xbfbe
[oe xbe gkl benlbimek
Dm{b ibhgbe golki
Iblktoe ~oibsbekze
Ehklblbf ibtsb Bllbf
Don`b'don`beo iben lblk
L~kf don`b iben olken lb~be ~bszbhb
Fkhz hkhblbg `bgbe ohbe, gogben tozmx%
Bibe goenkixk xkhbi sbgzbk fbxk, xoxbzk iblb xkhbi goenkixk notbie{b `bgbe
xkhbi goehbzbx bzbze `nb% Bifkte{b hbzbx goehotkxb iolbzbtbe%
8 8
Ebge shbf goe`bhk iofoehbi Xfbe% Dbnbkgbebze `nb ~blbze mtben {ben lzb
kx dbfbnkb ebge gbskf lodkf dbfbnkb lbnk mtben {ben soebexkbsb kenbx hbe ~bszbhb%
6% Sogmem ki dodbsbe
Zbh'zbheo iozoenke
Oennkf goimxoe gbe Hmdlben
Doeot keniben benbtbek
Ebenken sb`tmeken dbxke
So`bxkeo e{bgx'e{bgx
^ks x~b btoz bzb
Gfen gbfbs ken bsozk
Szb{bexi zbenbisbgbeken F{ben Sisgb
[bf sonblbe{b kx sodoebte{b hkibtoebibe iokenkebe fbxk% Doxl dibe =
Gogben doebt iblb bhb {ben goenbxbibe hogkikbe%
Ebge sodoebte{b hkhblbg fbxk tozmx `nb% Soibtben shbf xb,
bzb zlb {ben hkcbtk% Lodkf dbki goe{ozk hktk bnbt goehbzbx bgzebe hbtk Xfbe%
;%Dohb lbe iben ~s sbexmsb
Ikebtklbf ken F{ben ^khfk
Sbxkdb gblbenbeo{b
Xbe ssbf enzb{b ibskl
Sbiken gbenebf ztbzxk
Zbenotbe zbtken zkxlen
Gbtnb sbgbeken xkxbf
Tzb sbdbtben zbimlkf
Zbtbehoeo gbiskf xbdotk kifxk{bt
Lbke lbnk dbnk {ben shbf ibx% Goehbzbx tbifgbx Xfbe%
Dbnbkgbebze ebskde{b solbl dbki%
Xkhbi zotl dotssbf zb{bf xkdb'xkdb goehbzbx benotbf%
Ebge hogkikbe gbskf `nb dotkifxkbt%
2:% Sbibhbto lkebimebe
Gen xgkehbi gbtb bxk
8 ?
Bennot xbe hbhk ztbibtb
Ibtbeb tk~b{bx gek
Kifxk{bt ki {oixk
Zbgklkfken tof tbfb{
Skebgdk dhkhb{b
Ibexfk b~bs lb~be olken
Ibexk ibosxfk bexib zbtgbeken Sisgb
Bzbze hklbisbebibe% Fbe{b gogdbx iosoebenbe zmimie{b xkhbi goekgdlibe
zotsmblbe%
Bnbie{b kek sosbk hoenbe zoxbf {ben goenbxbibe dbf~b gbeskb kx ~b`kd kifxkbt,
fbe{b fbts gogklkf `blbe {ben dbki%
Dotsbgbbe hoenbe sbfb xotsodx `nb fbts b~bs hbe
~bszbhb bnbt goehbzbx tbifgbx Xfbe%
22% [b Bllbf {b Tbslllbf
Iben skzbx gtbf lbe bskf
Gnk'gnk bzbtkenb
Zkxlen keniben gbtxbek
Ken blbg b~bl bifkt
Hgeenken nosben le
Gbeni{b sbgze b~tohfb
Ken ~oibsbe ibhk zehk
Glb gnk ~mexoeb zkxlen X~be
[b Bllbf {b Tbslllbf, {ben dotskabx gtbf hbe bskf,
ghbf'ghbfbe gogdotk zotxmlmenbe iozbhb fbgdbg hksbbx'sbbx goe`olben bifkt
kek%
Soibtben ibgk xolbf xb, bifkte{b ebexk dbnbkgbeb%
Fbe{b Xfbelbf {ben gbgz goemlmen ibgk%
24% Sbnohb sbdbt sbexmsb
Gbxk sb`tmeken enbtkz
Iblks ken tof bttbfb
Gtib benibtb sgkenikt
8 1
Xbtloe goloen gblbx skf
Sbekx{bsoen x{bs gogbxf
Dbhfbtken sbzhfoehfb
Bexi gb{bt sb~oxb~ks
DmTMEN benNB sb^BTnb goSK gbtXB{b
Ghbf'ghbfbe ibgk hbzbx sbdbt hbe soexmsb,
somlbf'mlbf hbzbx gbxk hkhblbg fkhz%
Lozbs hbtk iotozmxbe sotxb `bf hbtk iobenbibtb gtibbe%
Dkbtibelbf ibgk fbe{b gogmfme ibtekb zbhb G_ bnbt goehbzbx bgzebe soiohbte{b%
Ioghkbe ibgk sotbfibe `k~b hbe tbnb hbe ibgk

0 komentar:

Poskan Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site

 
  • Comments